Saya pernah membaca bahwa di dalam buku  “GURU YANG DIRINDU” guru punya banyak tekanan batin terutama guru muda. Hal ini kemungkinan dikarenakan belum banyaknya pengalaman dalam mengajar. Selain itu guru muda cenderung masih idealis dalam menghadapi sebuah permasalahan. Harapan yang terlalu tinggipun tak lepas dari lubuk hati seorang guru sebagai pendidik. Tugas guru bukanlah hanya mengajar, akan tetapi guru juga harus mampu mendidik anak bangsa yaitu pekerjaan yang lebih berat dibandingkan mengajar.

Banyak pengalaman yang pernah saya alami saat ini, saat dimana banyak orang yang memanggilku “guru muda”. Pengalaman pertama dan tidak pernah bisa terlupakan yaitu ketika ulangan pertama, menjadi guru matematika pertama kalinya di XI IPA bab statistika, rata2 nilai ulangan dalam satu kelas yang tuntas hanya 1 siswa. Sungguh sedihnya diriku saat itu. Saya mulai renungi, apakah soalnya yang terlalu sulit atokah saya yang belum bisa mengajar? Pertanyaan itu yang terus terpikirkan olehku.

Akhirnya pada bab berikutnya saya men coba untuk memperbaiki latihan-latihan soal yang saya berikan. Peserta didik saya kasih soal-soal yang cukup sulit agar mereka terbiasa dengan soal-soal yang penuh tantangan. Alhamdulillah ulangan kedua yang tuntas rata-rata tiap kelas ada 10 anak. Akan tetapi aku masih berpikir apakah metode saya kurang menarik ataukah anaknya yang belum bisa beradaptasi karena yang tuntas belum ada 50%?. Ataukah memang kemampuan mereka tidak seperti yang saya bayangkan?

Semester dua kinerja dalam pembelajaran mulai saya perbaiki. saya mulai membuat rencana pembelajaran yang matang agar lebih terarah. Alhamdulillah ulangan pertama yang tuntas rata – rata 50 %. Akan tetapi ada hal yang membuatku sedikit trenyuh. Waktu itu ada siswa yang sms tanya nilai ulangan. Siswa yang sering jadi pikiran saya saat semester satu karena dia sering murung saat pelajaranku. Akhirnya ku tanya pada dirinya, kenapa dia sering murung saat pelajaran saya?.

Dia mengatakan, “Sebel aja sama bu baiti”.

Saya tanya, “Lha kenapa kok bisa sebel gitu?”

“Nggak tahu ya…saat bu baiti senyum pada temen rasanya iri gitu”, katanya.

Dia menambah,”Tidak hanya saya lho bu yang sebel, tapi semua kelas ada”.

Trus kutanya lagi,”Lha sebelnya seperti apa? n siapa aja?..

Dia bilang,”lho ngajar gak enak, gateli, pilih kasih, nyebelin dll, trus ada juga yang bilang ‘ah yang nunggu singo,pelit, masak salah tanda aja drastis bangt,kucluk soal kuliahan masa dipake UH”.

Membaca itu semua rasanya ingin menangis, ternyata tidak semua siswa suka dengan metode pembelajaranku. Saya tidak marah, justru saya mencoba untuk memperbaiki diri. Saya seneng ada seorang siswa bisa terus terang dengan polosnya seperti itu sehingga saya bisa koreksi diri.

Kucoba untuk merenungi mungkin mereka merasa kurang diperhatiin?. Untuk itu saya mencoba bertanya kepada dia, siapa2 aja yang sebel sama saya?. Akhirnya dia mau memberitahu dan saya berusaha untuk mendekati mereka semua dan memberi perhatian lebih pada mereka. Alhamdulillah siswa yang sms saya tadi, justru sekarang deket sekali dengan saya dan saya dianggap seorang guru yang menjadi teman kedua bagi dia. Hati ini trenyuh sekali mendengar itu semua. Alhamdulillah nilainya juga melonjak lebih baik. Dari kejadian ini bisa diambil beberapa hikmah:

1. Menjadi guru harus terbuka dengan kritikan seorang siswa agar bisa memperbaiki diri dan memperbaiki metode pembelajaran yang kita gunakan.

2. Tidak perlu takut akan mendengar celaan siswa, justru dengan celaan itu kita bisa instropeksi diri untuk menjadi lebih baik.

3. Ciptakan suasana “Guruku adalah Temanku” dalam dunia pendidikan agar peserta didik kita bisa terbuka akan kesulitannya dalam belajar maupun dalam menghadapi permasalahan hidup.

4. Perhatikan kondisi siswa saat pelajaran agar kita bisa memberi perhatian lebih pada siswa2 yang membutuhkan.

5. Kenali siswa, perhatikan siswa, n dengarkan siswa agar engkau menjadi seorang guru yang dirindu.

6. Pandai menjaga rahasia permasalahan siswa merupakan salah satu cara menumbuhkan kepercayaan siswa terhadap seorang guru.

Sampai saat ini saya juga masih terus belajar bagaimana bisa menjadi “seorang guru yang dirindu peserta didik”. Belajar dan belajar yang harus dilakukan seorang guru (pendidik) agar dunia pendidikan menjadi hidup dan menciptakan dunia pendidikan sebagai keluarga bagi anak-anak.

Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi motivasi bagi guru – guru muda Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa.Amiin…..

About Siti Nur Baiti

aku bukanlah manusia yang sempurna atas segalanya, akan tetapi aku adalah seorang insan yang memiliki kelebihan dan kekurangan.

2 responses »

  1. GokilOnline.com mengatakan:

    hm..
    blm selesai nih bacanya.. di bookmark dulu ah..😀

  2. Ms. Resty mengatakan:

    sebuah pembelajaran buat kita semua terutama para pendidik.
    Salam kenal, jika ada waktu main ke blog bu guru di Tangerang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s